Istilah-istilah Umum Fotografi


ASA
ASA atau Kecepatan film adalah istilah dalam fotografi untuk mengukur tingkat kesensitivitas atau kepekaan film foto terhadap cahaya. Film dengan kepekaan rendah (memiliki angka ISO rendah seperti ASA 100) membutuhkan sorotan/exposure yang lebih lama sehingga disebut slow film, sedangkan film dengan kepekaan tinggi (memiliki angka ISO tinggi seperti ASA 800) membutuhkan exposure yang singkat.

APERTURE

Aperture atau Bukaan atau rana di dalam fotografi berarti ukuran pembukaan diafragma yang mengatur banyaknya cahaya yang masuk ke dalam kamera. Biasanya dilambangkan dengan huruf f.Angka bukaan umumnya merupakan urutan 1, 1.2, 1.4, 2, 2.8, 4, 5.6, 8, 11, 16, dan seterusnya.Nilai bukaan merupakan perbandingan antara jarak fokus lensa dengan diameter lubang diafragma, yang biasanya dituliskan dengan format f/(nilai bukaan). Sebagai contoh, lensa 100mm, pada pengaturan bukaan 4 (f/4), mempunyai arti bahwa diafragma pada lensa tersebut sedang terbuka dengan diameter 25mm.Karena bukaan adalah perbandingan antara jarak fokus lensa dengan diameter dari diafragma yang terbuka saat itu, maka untuk satu nilai bukaan (misalnya f/8) pada semua lensa (tidak tergantung dari panjang fokal lensa tersebut), akan meneruskan intensitas cahaya yang sama.

Semakin besar angka bukaan, berarti semakin kecil diameter lubang diafragma di bagian dalam lensa. Besarnya diameter terbukanya diafragma akan membuat cahaya yang masuk menjadi lebih banyak, sehingga pajanan cahaya bertambah dan akibatnya tingkat keterangan foto bertambah, demikian pula sebaliknya.

Pengaruh lain dari bukaan adalah terjadinya perbedaan ruang ketajaman/depth of field. Angka bukaan yang kecil menyebabkan ruang ketajaman berkurang. Sebaliknya angka bukaan yang kecil akan menyebabkan ruang ketajaman bertambah.

AF
Autofocus, fitur optik pada alat fotografi.

AF-D
Lensa AF-D adalah lensa fokus otomatis dengan CPU didalamnya, yang mempunyai kemampuan untuk menghitung jarak antara objek dengan kamera. Huruf D merupakan singkatan dari distance (jarak). Salah satu kegunaan pengukuran jarak objek terhadap kamera adalah pengaturan lampu kilat/flash light secara tepat dan otomatis dari kamera tersebut.
Catatan:

Fungsi “D” pada lensa ini bisa bekerja dengan baik bila lensa tersebut dipasang pada body kamera yang memiliki fasilitas 3D metering.
Kekuatan lampu kilat bisa diatur oleh kamera jika lampu kilat tersebut mempunyai fasilitas TTL didalamnya.
Lensa AF-D diperkenalkan pertama kali pada tahun 1992

AF-S
AF-S merupakan terminologi untuk jenis lensa yg digunakan oleh Nikon untuk salah satu produk lensa fotografi mereka. AF menunujukkan bahwa lensa tersebut merupakan jenis auto focus, sementara S menujukkan bahwa lensa tersebut dilengkapi dengan motor ultrasonik dalam tubuh lensanya sebagai penggerak mekanisme auto focus. Merk dagang untuk motor ultrasonik dari Nikon adalah Silent Wave Motor (SWM), sehingga menjelaskan dari mana huruf S tersebut berasal. Motor ultrasonik tersebut digerakkan atas perintah secara elektronik dari kamera, dan berkinerja amat cepat serta senyap (hampir tanpa bunyi) dibandingkan dengan jenis lensa auto focus lainnya dari Nikon yang digerakkan secara mekanis dari tubuh kamera, atau lebih dikenal sebagai lensa AF. Jenis lensa AF-S merupakan generasi lensa terkini yang dibuat oleh Nikon, dan merupakan kelanjutan dari lensa manual serta lensa AF (mekanis).
Lensa dengan prinsip sejenis dan menggunakan penggerak motor ultrasonik dari Canon menggunakan istilah berbeda, yaitu USM (Ultra Sonic Motor), sementara Sigma menggunakan istilah HSM (Hyper Sonic Motor).

Hampir seluruh jenis lensa AF-S mempunyai kontak geser untuk 2 posisi, A/M dan M. Pada posisi A/M, lensa akan berfungsi sebagai lensa auto focus (jika menggunakan kamera yang kompatibel untuk proses auto focus) sekaligus berfungsi manual begitu cincin pengatur fokus digerakkan secara manual (manual override). Pada posisi M, lensa hanya bisa berfungsi sebagai lensa manual fokus.

AUTOMATIC EXPOSURE (AE)
Automatic exposure adalah sebuah pilihan setting dalam kamera otomatis di mana sistem komputer di dalam kamera akan mengontrol Exposure yang tepat (misalnya mengatur Shutter Speed dan aperture lensa) secara otomatis.

CCD
Charge-coupled device atau CCD (Peranti muatan-berpasangan) adalah sebuah sensor untuk merekam gambar, terdiri dari sirkuit terintegrasi berisi larikan kondensator yang berhubungan, atau berpasangan. Di bawah kendali sirkuit luar, setiap kondensator dapat menyalurkan muatan listriknya ke tetanggannya. CCD digunakan dalam fotografi digital dan astronomi (terutama dalam fotometri), optikal dan spektroskopi UV dan teknik kecepatan tinggi seperti penggambaran untung.

CIRCULAR POLARIZIN FILTER
Circular polarizin filter atau Filter polarisasi berguna untuk mengurangi pantulan cahaya pada permukaan air maupun kaca (bukan logam). Biasanya filter ini digunakan untuk menghindari pantulan cahaya yang menyilaukan pada jendela kaca, atau untuk memotret danau tetapi ingin menghilangkan pantulan cahaya dari permukaan danau itu misalnya. Dapat juga digunakan untuk menaikkan saturasi warna, misalnya untuk membuat langit nampak lebih biru.

CMYK
Cyan Magenta Yellow Key, atau sering disingkat sebagai CMYK adalah proses pencampuran pigmen yang lazim digunakan percetakan. Tinta process cyan, process magenta, process yellow, process black dicampurkan dengan komposisi tertentu dan akurat sehingga menghasilkan warna tepat seperti yang diinginkan. Bahkan bila suatu saat diperlukan, warna ini dengan mudah bisa dibentuk kembali.

DEPTH OF FIELD
Depth of Field adalah istilah khusus di dalam fotografi untuk menunjukkan ruangan tertentu di dalam foto yang mendapatkan perhatian khusus oleh mata karena adanya perbedaan ketajaman (fokus).
Perubahan kedalaman ruang dipengaruhi oleh tiga faktor:

Jarak fokus utama dari kamera
Lebar ruang tajam berbanding lurus dengan kuadrat jarak objek. Jika kita mengubah jarak antara kamera dengan objek sebesar 3x (lebih jauh – dengan menggeser kamera mundur dari posisi semula) maka lebar ruang tajam akan menjadi 9x lebar semula.
Bukaan diafragma
Lebar ruang tajam berbanding lurus dengan diafragma. Contoh: jika diafragma dinaikkan 2 stop dari f/8 ke f/16, maka lebar ruang tajam akan menjadi 2x lebar semula.
Panjang fokus lensa yang digunakan
Lebar ruang tajam berbanding terbalik dari kuadrat panjang fokus. Dengan kata lain, lebar ruang tajam akan menjadi 4x lebar semula jika kita mengubah lensa dari 100mm ke 50mm (panjang fokus lensa setengah dari semula).

DEPTH OF FIELD PREVIEW
Depth of field preview adalah tombol tambahan di badan kamera untuk melihat bagaiamana kedalaman ruang terbentuk di foto. Awalanya kamera SLR dirancang untuk selalu membuka lensa pada nilai bukaan sebenarnya sehingga kadang mempersulit fotografer untuk membidik, terutama di tempat gelap jika menggunakan bukaan kecil. Sebagai contohnya di kamera Pentax Asahi.Namun kamera berikutnya pun tidak memberi solusi yang baik dengan memberi pandangan tetap di bukaan terbesar. Sebagai akibat penggunaan sistem ini, fotografer mengalami kesulitan memperkirakan kedalaman ruang di foto nanti. Karena itu beberapa kamera SLR untuk penggunaan profesional atau semi-profesional dilengkapi dengan tombol Depth of field atau DOF preview yang jika ditekan akan membuat kisi-kisi diafragma pada lensa merapat sesuai dengan setelan yang dikehendaki. Akibatnya fotograferkedalaman ruang yang sesungguhnya walaupun tombol shutter belum ditekan. Contoh paling awal adalah di kamera Nikon FM.

EOS
EOS adalah singkatan dari Electro Optical System, sebuah sistem kamera Canon yang menekankan penggunaan auto-fokus (AF) pada sistem kamera-nya.

EXIF
EXchangeable Image File. Format gambar yang diciptakan oleh JEIDA, the Japan Electronic Industry Development Association dan didukung hampir seluruh kamera digital.
Pada dasarnya adalah file JPEG dengan tambahan beberapa tags (metadata), berisi informasi berguna saat pengambilan gambar sebuah foto. File EXIF selanjutnya dapat di baca oleh program yang kompatible dengan JPEG, dan bagi software yang mengerti EXIF, akan mengambil data nya juga. Biasanaya informasi yang dimasukan adalah kecepatan shutter, bukaan (apperture), mode metering, pembuat kamera, panjang focal, ISO, white ballance, flash on/off, dsb.

EXPOSURE
Exposure adalah istilah dalam fotografi yang mengacu kepada banyaknya cahaya yang jatuh ke medium (film atau sensor gambar) dalam proses pengambilan foto. Untuk membantu fotografer mendapat setting paling tepat untuk exposure, digunakan lightmeter. Lightmeter, yang biasanya sudah ada di dalam kamera, akan mengukur intensitas cahaya yang masuk ke dalam kamera.Sehingga didapat pajanan normal.

FOCAL LENGTH
Focal length adalah ukuran jarak antara elemen lensa dengan permukaan film (atau sensor digital) pada kamera. Lensa dengan panjang fokal besar akan memberikan sudut pandang yang sempit sehingga sebuah objek pada jarak jauh akan nampak menjadi lebih besar di dalam foto. Sebaliknya lensa dengan panjang fokus kecil memberikan sudut pandang tangkap lebih luas dan menyebabkan objek mendapat porsi lebih kecil di dalam foto. Panjang fokal yang bisa berubah-ubah sering diistilahkan dengan zoom (perbesaran).

JPEG
Joint Photographic Experts Group (JPEG) adalah format gambar yang banyak digunakan untuk menyimpan gambar-gambar dengan ukuran lebih kecil. Beberapa karakteristik gambar JPEG:
Memiliki ekstensi .jpg atau .jpeg.
Mampu menayangkan warna dengan kedalaman 24-bit true colour
Mengkompresi gambar dengan sifat lossy
Umumnya digunakan untuk menyimpan gambar-gambar hasil foto.
JPEG berbeda dengan MPEG (Moving Picture Experts Group) yang menyediakan kompresi untuk video.

OVEREXPOSURE
Overexposure adalah istilah dalam fotografi yang mengacu kepada banyaknya cahaya yang jatuh ke medium (film atau sensor gambar) dalam proses pengambilan foto. Untuk membantu fotografer mendapat setting paling tepat untuk exposure, digunakan lightmeter. Lightmeter, yang biasanya sudah ada di dalam kamera, akan mengukur intensitas cahaya yang masuk ke dalam kamera. Sehingga didapat pajanan normal.

PRIME LENS
Prime lens atau fixed lens adalah lensa dengan panjang fokal tidak dapat diubah kecuali dengan bantuan lensa tambahan atau teleconverter. prime lensa berlawanan dengan lensa zoom yang memiliki panjang fokal variabel.
Umumnya prime lens lebih ringan, dan banyak fotografer percaya lensa ini bisa menghasilkan gambar yang lebih tajam dan kualitas optiknya lebih baik daripada lensa zoom. Panjang focal lensa utama yang sering dijumpai pada kamera 35mm adalah 28, 50, 85, 100 dan 135mm.

SHUTTER
Shutter atau Rana dalam istilah fotografi adalah tirai pada kamera yang menutupi permukaan atau sensor foto. Jika tirai ini terbuka maka akan terjadi exposure pada permukaan film atau sensor foto tadi.

SHUTTER SPEED
Shutter speed atau Kecepatan rana adalah ukuran kecepatan rana membakar medium penangkap cahaya (lebih umum disebut film atau sensor digital).

TRIPOD
Tripod adalah alat untuk membantu agar badan kamera bisa berdiri dengan tegak dan tegar. Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi kelelahan fotografer dalam mengambil gambar dan mengurangi noise yang ditimbulkan oleh guncangan tangan fotografer. Tripod biasanya dipakai jika fotografer menggunakan shutter speed di angka 30 atau lebih lambat atau menggunakan lensa kamera dengan focal length lebih dari 200 mm.

VIEWFINDER
Viewfinder atau dikenal juga dengan jendela pelihat, berupa jendela kecil pada kamera untuk melihat object yang akan diambil oleh fotografer, object yang tampak pada viewfinder sesuai dengan kenyataan dan hasil yang ada di viewfinder pula yang akan tercetak di film. pada kamera fotografi profesional, di dalam viewfinder juga terdapat titik fokus dan pengukuran cahaya sehingga fotografer dapat melihat apakah gambar yang dihasilkan memiliki cahaya yang cukup dan ketajaman gambar yang pas.

VIBRATION REDUCTION
Vibration Reduction atau VR merupakan fasilitas dari varian lensa kamera yang berfungsi mengurangi getaran karena kurang kuatnya tangan pada saat mengambil gambar. Istilah ini digunakan pada lensa-lensa dari serial kamera bermerek Nikon. Canon menggunakan istilah Image Stabilizer (IS) yang fungsinya sama dengan VR dan juga Sigma menggunakan istilah Optical Stabilizer (OS). Ketiga istilah ini pada dasarnya bekerja dengan cara yang sama, yaitu menggunakan grup tambahan di tubuh lensa yang berfungsi untuk menyeimbangkan bidikan lensa dengan cara menggerakkan grup ini ke arah yang berlawanan dari getaran tangan kita. Sistem penyeimbang di tubuh lensa ini lebih superior dari sistem penyeimbang yang terdapat di sensor kamera seperti Sony Alpha, dimana hasil yang stabil bisa dilihat langsung di optical viewfinder. Sistem ini terus dikembangkan. Pada Desember 2006, tehnologi yang terakhir bisa memberikan total 4-stop lebih lambat daripada jika kamera dipegang oleh tangan, seperti di lensa Canon EF 70-200mm f/4 IS USM.
Contoh: Untuk lensa diatas, dengan mengikuti pedoman standar panjang fokal / detik, jika lensa tersebut di-zoom ke 200mm dan dipegang secara handheld, maka pedoman Shutter speed yang aman adalah 1/200 detik. Dengan tehnologi ini, maka lensa yang sama bisa dipakai hanya dalam 1/12 detik.

ZOOM LENS
Lensa variabel atau sering disalahkaprahkan dengan lensa zoom adalah lensa khusus dengan jarak fokus yang bisa diubah-ubah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s